KASUS 872-11-1953 STATUS: DITUTUP

WEIST

— Di Kota Lama —

«▌»

MisteriKillerRomanceActionPsikologi
±129 Chapter Rilis 29 Agustus 2026 🅆 Wattpad
Baca di Wattpad ↗ Baca Prolog
Cover resmi novel WEIST — Di Kota Lama Cover Resmi
Poster trailer novel WEIST — Di Kota Lama Poster Trailer

Cover by: Antarez

gulir untuk membuka kasus▼

Menuju publikasi — 29 Agustus 2026, hanya di Wattpad

00Hari
00Jam
00Menit
00Detik
Jelajahi Dunia WEIST

RUANG INTERAKTIF

01♠

Ruang Teka-Teki

50 teka-teki, 20 puzzle, 15 kasus cerita ala detektif asli. Progress tersimpan. Berani membuka berkasnya?

Masuk ➔
02📡

Papan Informasi

Pengumuman & update resmi dari markas, tersiar LIVE lewat database. Jangan lewatkan satu pun petunjuk.

Pantau ➔
03💬

Ruang Kesaksian

Tinggalkan kesaksianmu sebagai detektif, saksi, atau tersangka — dan tunggu balasan resmi sang Penulis. 🦊

Bersaksi ➔
04📖

Baca di Wattpad

±129 chapter menantimu. Ikuti, vote, dan komentari langsung di Wattpad mulai 29 Agustus 2026.

Ikuti ➔
Berkas Penyelidikan

SINOPSIS & PAPAN BUKTI

November 1953. Sebuah jeritan di lantai tiga Gedung Lama membuka kasus yang tak pernah bisa dijelaskan: ruangan kosong, koper hitam, dan selembar kertas bertinta merah — «Jangan percaya pada orang yang datang setelah aku.»

73 tahun kemudian, kasus 872-11-1953 yang seharusnya mati kembali mengetuk pintu. Kirana Aretha, detektif yang mewarisi berkas berdebu itu, menemukan namanya sendiri tertulis pada amplop di dalam gedung yang seharusnya kosong.

Semakin dalam ia menyelam, semua jalur berakhir pada satu nama: Andhika Maheswara — pemuda yang belum lahir saat kasus terjadi, namun dikenal di dunia tanpa hukum sebagai Rubah Pradipta. Di sisi lain, organisasi bayangan Elite Global mulai bergerak.

Di kota lama, kebenaran tidak pernah benar-benar terkubur. Ia hanya menunggu orang yang berani membukanya.

Kaca pembesar aktif Petunjuk ditemukan: 0/4
Sub cover WEIST — coming soon di Wattpad
sub-cover • coming soon

Clue:

  • Belati
  • Pulpen
  • Koper
  • Kaca Pembesar
Beberapa luka tak bisa sembuh, tapi bisa diubah jadi cerita.
Kita semua punya masa lalu, tapi tidak semua orang berani menatapnya.
Penyelidik terakhir: KARIN — menghilang 3 hari setelah kasus dibuka.
RUBAH 872 KARIN 1953
Kasus Dibuka Kembali
Urutan Peristiwa

LINIMASA KASUS

NOV 1953
Kasus 872-11-1953. Jeritan dari lantai tiga Gedung Lama. Ruangan kosong, koper hitam, pesan merah. Penyelidik Karin menghilang. Kasus ditutup.
14 JAN 2026
Kirana Aretha menerima berkas lama. Foto gedung bertuliskan tangan: «Kasus ini belum selesai.»
16 JAN 2026
Gedung Lama: pintu terbuka sendiri, amplop KIRANA ARETHA, ukiran simbol rubah yang dingin seperti baru disentuh.
18 JAN 2026
Andhika Maheswara diserang; jaringan lawan runtuh dalam 14 menit. File misterius: «KAMI TAHU KAU SUDAH MULAI BERGERAK.»
20 JAN 2026
Kirana tiba di Jakarta. Autopsi tersembunyi: satu jenazah tanpa identitas. Dua jalan mulai bertemu: Rubah & Detektif.
Dokumen Rahasia

PROLOG LENGKAP

Case File
No. Kasus: 872-11-1953 • Lokasi: Gedung Lama, Semarang • Status: DITUTUP • Penyelidik terakhir: Karin

PROLOG 1 — GEDUNG LAMA

Semarang, Jawa Tengah — November 1953

Hujan turun sejak sore.

Di ujung sebuah jalan tua yang nyaris dilupakan kota, berdiri sebuah gedung berlantai tiga dengan dinding yang mulai menghitam dimakan usia.

Gedung Lama.

Tidak ada yang tahu pasti siapa pemilik pertamanya. Tidak ada yang berani tinggal di sana. Dan sejak malam itu, tidak ada seorang pun yang berhasil menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Pukul 23.17.

Suara jeritan terdengar dari lantai tiga.

Seorang penjaga malam berlari menuju gedung tersebut. Pintu depan terkunci dari dalam. Jendela-jendela tertutup rapat. Namun ketika pintu akhirnya berhasil didobrak, mereka menemukan sebuah ruangan kosong.

Tidak ada korban. Tidak ada pelaku. Tidak ada tanda-tanda perkelahian.

Hanya sebuah meja kayu tua di tengah ruangan. Di atasnya terdapat sebuah koper hitam. Dan di samping koper itu— selembar kertas dengan tulisan tangan merah.

«"Jangan percaya pada orang yang datang setelah aku."»

Malam itu tercatat sebagai Kasus 872-11-1953.

Penyelidikan dilakukan oleh seorang penyidik bernama Karin. Namun tiga hari setelah penyelidikan dimulai... Karin menghilang.

Kasus tersebut kemudian ditutup. Bukan karena kasusnya selesai. Melainkan karena tidak ada lagi orang yang berani membukanya.

✦ ✦ ✦

Jakarta — 73 tahun kemudian • 14 Januari 2026

Kirana Aretha berdiri di depan sebuah lemari arsip tua. Tangannya masih memegang map berwarna cokelat yang baru saja diberikan atasannya. Kapten Danang Suroso menatapnya dari balik meja.

"Kasus lama."

Kirana mengangkat alis. "Seberapa lama?"

Danang tidak langsung menjawab. Ia hanya mendorong map itu ke arahnya. Kirana membukanya. Debu tipis keluar dari sela-sela kertas. Foto hitam putih. Denah bangunan. Laporan pemeriksaan. Potongan surat kabar. Dan satu halaman yang membuat tangannya berhenti.

KASUS 872-11-1953 — LOKASI: GEDUNG LAMA, SEMARANG — STATUS: DITUTUP — PENYELIDIK TERAKHIR: KARIN

Kirana membaca halaman itu beberapa kali. "1953?"

"Ya."

"Dan Bapak ingin saya melanjutkan kasus ini?"

"Benar."

Kirana menatap Danang dengan tidak percaya. "Kapten, pelaku kasus ini mungkin sudah meninggal."

"Memang."

"Barang buktinya?" — "Sebagian hilang."

"Saksi?" — "Sudah tidak ada."

"Berarti apa yang kita punya?"

Danang diam. Kemudian ia menjawab pelan. "Satu kesalahan."

Kirana mengernyit. "Kesalahan?"

"Kasus itu seharusnya tidak pernah ditutup."

Ruangan menjadi hening. Danang kemudian mengambil sebuah foto dari dalam laci mejanya. Foto gedung tua. Foto yang sama seperti yang berada di dalam arsip. Namun ada sesuatu yang berbeda. Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan.

14 Januari 2026. Tanggal hari ini.

Kirana membalik foto tersebut. Di bawah tanggal itu terdapat satu kalimat.

«"Kasus ini belum selesai."»

Untuk pertama kalinya sejak membuka berkas tersebut, intuisi Kirana mengatakan sesuatu. Ini bukan sekadar kasus lama. Seseorang baru saja membuka kembali kasus itu. Dan seseorang tersebut tahu bahwa Kirana akan datang.

✦ ✦

Semarang — Dua hari kemudian

Kirana berdiri di depan Gedung Lama. Bangunan itu masih berdiri. Lebih tua. Lebih sunyi. Namun anehnya... tidak terlihat seperti bangunan yang telah ditinggalkan selama puluhan tahun.

Pintu depannya baru saja dicat. Satu lampu di lantai tiga menyala.

Kirana memperhatikannya dari dalam mobil. Tangannya perlahan meraih pistol yang tersimpan di pinggang. "Mustahil..."

Ia turun. Langkahnya membawa dirinya mendekati pintu. Sebelum tangannya menyentuh gagang pintu— KLIK. Pintu terbuka sendiri.

Kirana membeku. Di dalam gedung, gelap. Tidak ada suara. Tidak ada angin. Tidak ada siapa-siapa. Hanya sebuah suara samar dari lantai atas.

Tok. ... Tok. ... Tok.

Seperti seseorang sedang mengetuk meja.

Kirana menyalakan senter. Ia masuk. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Kemudian ia melihatnya. Sebuah koper hitam. Terletak tepat di tengah ruangan yang sama seperti dalam foto tahun 1953.

Kirana mendekatinya. Di atas koper itu terdapat sebuah amplop. Namanya tertulis di sana.

KIRANA ARETHA

Jantungnya berhenti sesaat. Ia membuka amplop tersebut. Hanya ada satu lembar kertas. Tulisan tangannya sama seperti tulisan dalam arsip.

«"Jika kau menemukan ini, jangan cari pembunuhnya."»

Kirana menelan ludah. Di bawah kalimat itu terdapat tulisan kedua.

«"Cari siapa yang membuat kasus ini menghilang."»

Untuk pertama kalinya, Kirana merasa bahwa seseorang sedang mengawasinya. Ia menoleh. Kosong. Namun di ujung lorong, sebuah bayangan bergerak. Kirana langsung mengangkat senjatanya. "Berhenti!"

Bayangan itu menghilang. Kirana mengejarnya. Tetapi ketika ia sampai di ujung lorong— tidak ada siapa-siapa. Hanya sebuah pintu tua. Dan di pintu itu terdapat simbol yang sama dengan yang terukir pada koper.

Sebuah rubah.

Kirana menyentuh ukiran tersebut. Dingin. Terlalu dingin. Seolah seseorang baru saja menyentuhnya beberapa detik yang lalu.

✦ ✦

Malam itu, Kirana kembali ke hotel

Ia membuka seluruh berkas kasus. Satu per satu. Nama. Tanggal. Foto. Saksi. Penyelidik. Semuanya tidak masuk akal. Namun ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Setiap kali ia mencoba mencari hubungan antara kasus Gedung Lama dengan Jakarta... seluruh jalurnya selalu berakhir pada satu nama.

Nama seorang pemuda yang bahkan belum lahir ketika kasus itu terjadi.

Andhika Maheswara.

Kirana menatap nama itu lama. Ia belum mengenalnya. Belum pernah bertemu dengannya. Namun entah mengapa... sejak malam itu, nama tersebut terasa seperti sebuah peringatan.

Keesokan paginya, Kirana mendapat perintah baru. Berangkat ke Jakarta. Kasus Gedung Lama secara resmi dipindahkan. Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh puluh tiga tahun— kasus 872-11-1953 kembali hidup.

Kirana menutup map itu. Ia tidak tahu bahwa perjalanan menuju Jakarta bukanlah akhir dari penyelidikan. Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Karena di kota itu... seorang detektif polisi sedang mencari kebenaran. Sementara seseorang yang lain— sedang memastikan kebenaran tersebut tidak pernah ditemukan.

Namanya Andhika Maheswara. Dan di dunia yang tidak mengenal hukum... ia dikenal dengan nama lain.

Rubah Pradipta.

— lanjut ke Prolog 2 —

PROLOG 2 — RUBAH DI BALIK BAYANGAN

Jakarta — 18 Januari 2026

Malam telah turun ketika Andhika Maheswara keluar dari sebuah gedung perkuliahan.

Jaket hitam. Kemeja putih. Kacamata tipis yang masih bertengger di wajahnya.

Di tangannya terdapat beberapa buku hukum yang baru saja ia bawa dari perpustakaan.

Dari luar, ia hanya terlihat seperti mahasiswa biasa. Tidak ada yang akan menyangka bahwa di balik identitas sederhana itu, terdapat seseorang yang memiliki pengaruh jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan oleh kebanyakan orang.

Andhika berjalan menuju mobilnya. Kemudian— BRAK!

Sebuah kendaraan berhenti mendadak di depannya. Tiga orang turun. Disusul dua kendaraan lain dari belakang.

Andhika berhenti. Ia tidak terlihat panik. Tidak pula terkejut. Ia hanya memperbaiki posisi kacamatanya.

"Mahasiswa hukum," gumamnya.

Salah seorang pria berjalan mendekat. "Ikut kami."

Andhika tersenyum tipis. "Atas dasar apa?"

"Perintah pemerintah."

Andhika menatapnya beberapa detik. Kemudian tertawa kecil. "Kalau begitu..."

Ia meletakkan buku-bukunya di atas kap mobil. "...tunjukkan surat perintahnya."

Tidak ada jawaban. Pria itu langsung mengangkat tangannya. Para pengikutnya bergerak.

Andhika menghela napas. Jadi begini caranya. Ia sudah menduga serangan ini akan datang.

Beberapa hari terakhir, ia menemukan adanya transaksi mencurigakan yang melibatkan pejabat pemerintah, perusahaan-perusahaan cangkang, dan sejumlah institusi yang seharusnya berdiri untuk melindungi masyarakat.

Namun yang lebih menarik bukanlah uangnya. Melainkan siapa yang berada di belakang mereka.

Sebuah jaringan. Sebuah struktur yang jauh lebih besar daripada pemerintahan biasa. Elite Global.

Dan kelompok yang datang malam itu bukanlah penguasa sebenarnya. Mereka hanya berada di lapisan paling bawah. Pion. Lapisan yang bahkan tidak mengetahui siapa yang menggerakkan mereka.

Pria pertama menyerang. Andhika menghindar. Satu gerakan. Pria itu kehilangan keseimbangan. Andhika menangkap lengannya dan menjatuhkannya tanpa suara keras.

Orang kedua maju. Andhika berputar. Satu pukulan. Lawan terhuyung.

Sebelum orang ketiga sempat bereaksi, Andhika sudah berada di belakangnya. "Berhenti."

Suara Andhika tetap tenang. Ketiganya membeku.

Andhika mengambil ponselnya. Satu sentuhan. Kemudian layar ponselnya menunjukkan beberapa dokumen.

Nama pejabat. Rekening perusahaan. Hubungan politik. Foto pertemuan rahasia. Semuanya sudah berada di tangannya.

"Kalian tahu masalah terbesar kalian?" Tidak ada jawaban.

"Kalian menyerang orang yang sudah mengetahui siapa yang mengirim kalian."

Andhika menunjukkan layar itu kepada mereka. "Dan yang lebih buruk..." Senyumnya menghilang. "...kalian mengira saya tidak tahu bahwa kalian hanya lapisan paling bawah."

Hening. Salah seorang dari mereka mulai gemetar. "Siapa sebenarnya kau?"

Andhika memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Mahasiswa." Ia mengambil buku hukumnya. "Penulis." Kemudian ia mengenakan kembali kacamatanya. "Detektif swasta."

Ia berjalan melewati mereka. Namun sebelum masuk ke mobil, Andhika berhenti.

"Dan kalau kalian ingin tahu nama saya di dunia kalian..." Ia menoleh. Tatapannya berubah. Dingin. Kosong. Menakutkan.

"Rubah Pradipta."

✦ ✦ ✦

17 Menit Kemudian

Serangan tersebut selesai. Bukan karena pemerintah menarik pasukannya. Bukan karena mereka berhasil menangkap Andhika. Melainkan karena seluruh jaringan mereka tiba-tiba runtuh. Satu demi satu.

Sebuah laporan rahasia muncul. Beberapa pejabat kehilangan akses. Beberapa perusahaan dibekukan. Beberapa orang yang selama bertahun-tahun merasa tidak tersentuh oleh hukum mendadak menerima kabar bahwa seluruh rahasia mereka telah terbuka.

Andhika hanya duduk di sebuah kafe. Secangkir kopi berada di depannya. Laptop terbuka. Ia membaca berita yang mulai bermunculan.

"Penyelidikan Internal Pemerintah Dimulai." "Sejumlah Pejabat Diduga Terlibat Jaringan Korupsi." "Perusahaan Besar Terhubung Dengan Aliran Dana Misterius."

Andhika menutup laptop. Maya "Viper" Rosadi yang duduk di depannya hanya bisa menggelengkan kepala. "Serius?"

Andhika menatapnya. "Apa?"

"Empat belas menit." Andhika diam. Maya menunjuk layar. "Empat belas menit sejak mereka menyerangmu sampai seluruh jaringan mereka kacau."

Andhika menyeruput kopinya. "Mereka terlalu lambat."

Maya tertawa kecil. "Kau bahkan belum selesai minum."

Andhika melihat jam tangannya. "Masih panas."

Maya kembali tertawa. Namun senyumnya perlahan menghilang ketika ia melihat sebuah file yang baru saja muncul di layar.

ACCESS: UNKNOWN

Maya mengerutkan kening. "Ini bukan milik pemerintah." Andhika berhenti. "Aku tahu." "Jadi siapa?"

Andhika membuka file tersebut. Hanya terdapat satu kalimat.

«KAMI TAHU KAU SUDAH MULAI BERGERAK.»

Andhika tersenyum. Bukan senyum ramah. Bukan pula senyum seorang mahasiswa. Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan lawan yang menarik.

Ia menutup file tersebut. "Bagus." Maya menatapnya. "Bagus?"

Andhika berdiri. "Berarti mereka akhirnya sadar." "Sadar apa?"

Andhika mengambil jaketnya. "Bahwa saya bukan orang yang mereka cari." Ia berjalan menuju pintu. "Mereka seharusnya mencari orang yang sedang mencari mereka."

Maya terdiam. Di luar, Jakarta masih dipenuhi lampu. Kota itu terlihat normal.

Namun di balik gedung pemerintahan, perusahaan besar, media, dan ruang-ruang pertemuan yang tidak pernah diketahui publik— sebuah permainan besar baru saja dimulai.

Dan Andhika Maheswara... sudah melakukan langkah pertamanya.

Tanpa mengetahui bahwa di hari yang sama, seorang detektif polisi bernama Kirana Aretha sedang dalam perjalanan menuju Jakarta.

Mereka belum pernah bertemu. Namun dua penyelidikan yang berbeda... perlahan mulai mengarah kepada satu pusat misteri yang sama.

Gedung Lama. Kasus 872-11-1953. Dan sebuah organisasi yang selama puluhan tahun bekerja dari balik bayangan. Elite Global.

— lanjut ke Prolog 3 —

PROLOG 3 — DUA JALAN

Jakarta — 20 Januari 2026

Pagi itu, Jakarta diguyur hujan.

Langit berwarna kelabu ketika sebuah kereta berhenti di Stasiun Gambir. Di antara kerumunan penumpang, seorang perempuan turun dengan satu koper hitam dan sebuah map cokelat yang ia peluk erat.

Kirana Aretha.

Perjalanan dari Semarang telah selesai. Namun pekerjaannya baru dimulai.

Ia berhenti sejenak di peron. Matanya mengamati keadaan sekitar. Jakarta terasa berbeda. Lebih ramai. Lebih bising. Dan entah mengapa... lebih mencurigakan.

Ponselnya bergetar. Kapten Danang Suroso. Kirana mengangkatnya.

"Sudah sampai?" — "Sudah."

"Bagus. Jangan langsung ke kantor." Kirana mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Karena ada informasi baru." Kirana membuka map kasus Gedung Lama. "Informasi tentang kasus 1953?"

"Ya." Danang terdiam beberapa detik. "Kita menemukan satu nama."

Kirana menunggu.

"Andhika Maheswara."

Nama itu kembali muncul. Nama yang pertama kali ia temukan di Semarang. Kirana menatap halaman dalam map. "Siapa dia?"

"Mahasiswa hukum." — "Mahasiswa?" — "Secara resmi."

Kirana langsung menangkap sesuatu dari kalimat itu. "Secara resmi?"

Danang menghela napas. "Jangan cari tahu terlalu jauh melalui jalur resmi." "Kenapa?"

"Karena setiap kali kami mencoba mencari informasi tentang dia..." Suara Danang menjadi lebih rendah. "...informasinya sudah berubah."

Kirana terdiam. "Berubah bagaimana?"

"Seolah-olah seseorang sedang menghapus jejaknya."

Telepon terputus. Kirana memasukkan ponselnya ke saku. Ia menatap langit Jakarta. Kemudian berjalan meninggalkan stasiun.

✦ ✦

Beberapa kilometer dari sana

Sebuah ruangan gelap. Dindingnya dipenuhi layar. Data bergerak cepat. Nama-nama pejabat. Perusahaan. Rekening. Jaringan komunikasi. Foto-foto.

Di tengah ruangan, Andhika duduk sendirian. Tidak ada jas mahal. Tidak ada pengawal. Tidak ada senjata yang terlihat. Hanya kemeja hitam dan sebuah laptop.

Maya berdiri di belakangnya. "Ada sesuatu."

Andhika tidak mengalihkan pandangan dari layar. "Apa?" — "Polisi."

Andhika berhenti mengetik. "Kasus lama?" Maya mengangguk. "Kasus Gedung Lama."

Ruangan menjadi hening. Andhika akhirnya menutup laptop. "Siapa yang menangani?"

Maya menampilkan foto dari database. Seorang perempuan. Kirana Aretha.

Andhika memperhatikan foto tersebut beberapa detik. "Detektif dari Semarang." — "Benar." — "Kenapa dia?" — "Katanya dia yang ditugaskan melanjutkan kasus."

Andhika berdiri. Ia mengambil sebuah map lama dari rak. Map yang jauh lebih tua daripada dokumen apa pun di ruangan tersebut. Di sampulnya tertulis:

872-11-1953

Maya menatapnya. "Kau sudah tahu kasus itu?" Andhika tidak menjawab. Ia membuka halaman pertama. Di dalamnya terdapat sebuah foto hitam putih. Gedung Lama.

Namun ada sesuatu yang membuat Maya terdiam. Di bagian belakang foto terdapat sebuah tanda. Simbol rubah.

Maya menatap Andhika. "Kenapa simbol itu ada di sana?"

Andhika menutup map. "Itu bukan simbolku." "Kalau begitu..."

"Justru itu masalahnya."

Andhika berjalan menuju jendela. Jakarta terbentang di hadapannya. "Kasus itu jauh lebih tua daripada organisasiku."

Maya terdiam. "Dan seseorang sengaja menghubungkan namaku dengan kasus tersebut."

Andhika melihat ke bawah. Sebuah mobil polisi baru saja melewati jalan di depan gedung. "Pertanyaannya..." Ia tersenyum tipis. "...siapa yang ingin mempertemukan kita?"

✦ ✦ ✦

Siang Hari

Kirana akhirnya tiba di kantor kepolisian. Map kasus diletakkan di atas meja. Ia membuka kembali seluruh dokumen. Satu per satu. Foto Gedung Lama. Laporan Karin. Koper hitam. Pesan misterius. Kemudian nama Andhika.

Kirana mengambil laptop. Ia mencari informasi tentang pria tersebut. Hasilnya muncul.

Andhika Maheswara. Mahasiswa hukum. Penulis. Tidak ada catatan kriminal. Tidak ada kasus besar. Tidak ada hubungan dengan organisasi kriminal. Semuanya bersih.

Terlalu bersih.

Kirana menyipitkan mata. "Orang normal tidak punya data sebersih ini."

Ia mencoba mencari lagi. Hasilnya sama. Kosong. Kirana bersandar di kursi. Kemudian seseorang mengetuk pintu. Tok. Tok. "Masuk."

Dr. Arisya Larasati masuk membawa beberapa dokumen. "Kau Kirana?" — "Ya." — "Risa."

Mereka berjabat tangan. Risa meletakkan dokumen di meja. "Aku membaca laporanmu." — "Dan?"

Risa membuka salah satu halaman. "Kasus Gedung Lama punya satu masalah." — "Apa?" — "Jumlah korban."

Kirana mengerutkan kening. "Di laporan resmi tertulis tidak ada korban." — "Betul."

Risa menatapnya. "Tapi laporan autopsi lama menunjukkan sebaliknya."

Kirana langsung berdiri. "Berapa?" Risa menggeleng. "Itu masalahnya."

Ia menyerahkan sebuah lembar laporan. Satu jenazah. Tanpa identitas. Tanpa sidik jari. Tanpa catatan keberadaan. Tanggal pemeriksaan: November 1953.

Kirana membaca laporan itu berulang kali. "Kenapa ini tidak ada di berkas utama?"

Risa menatapnya. "Karena seseorang menghapusnya."

Kirana mengangkat wajah. "Siapa?" Risa tidak menjawab. Ia hanya berkata:

"Kalau kau benar-benar ingin menyelesaikan kasus ini..." Ia menunjuk nama di dalam berkas. "...temukan Andhika Maheswara."

✦ ✦ ✦

Malam

Andhika berdiri di atas sebuah gedung. Angin malam menerpa wajahnya. Di tangannya terdapat foto Gedung Lama. Ia melihatnya sekali lagi. Kemudian membakar foto tersebut.

Api perlahan melahap kertas. Namun sebelum foto itu menjadi abu, Andhika melihat sesuatu. Di bagian belakangnya terdapat tulisan yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.

"Rubah akan bertemu dengan detektif pada malam ketika masa lalu kembali mengetuk."

Andhika tersenyum. "Jadi begitu." Ia menjatuhkan sisa foto. Api padam.

Di kejauhan, suara sirene polisi terdengar. Andhika menatap cahaya merah-biru yang bergerak di antara gedung-gedung Jakarta.

Untuk pertama kalinya, ia mengetahui bahwa seseorang sedang menyelidiki masa lalunya. Dan orang itu bukan musuhnya. Belum.

Di sisi lain kota, Kirana berdiri di depan papan investigasi. Foto Gedung Lama berada di tengah. Foto Andhika ditempel di sebelahnya.

Dua nama. Dua jalan. Dua dunia yang seharusnya tidak pernah bertemu. Namun perlahan... keduanya mulai mendekat.

Tanpa Kirana tahu siapa sebenarnya Andhika. Tanpa Andhika tahu seberapa keras Kirana akan mengejarnya.

Dan tanpa keduanya menyadari bahwa di balik kasus tahun 1953... ada seseorang yang telah menunggu selama tujuh puluh tiga tahun.

Kasus Gedung Lama belum pernah benar-benar berakhir. Ia hanya... menunggu generasi berikutnya untuk membukanya kembali.

— bersambung ke Chapter 1 • 29 Agustus 2026 —

Arsip Subjek

KARAKTER UTAMA

Rahasia
Ilustrasi Kirana Aretha

Kirana Aretha

Detektif • Pewaris kasus 872-11-1953

Tajam, keras kepala, digerakkan intuisi yang tak pernah salah. Namanya tertulis di amplop yang seharusnya tidak pernah ada.

PenyelidikProtagonis
Rahasia
Ilustrasi Andhika Maheswara

Andhika Maheswara

alias "Rubah Pradipta"

Mahasiswa hukum, penulis, detektif swasta — dan nama yang ditakuti di dunia tanpa hukum.

KillerAntihero?
Rahasia
Ilustrasi Maya Viper Rosadi

Maya "Viper" Rosadi

Hacker • Rekan Andhika

Mata dan telinga di dunia maya. Menyaksikan jaringan lawan runtuh dalam 14 menit — dan file misterius yang tak terlacak.

ViperIntel
Rahasia
Ilustrasi Dr. Arisya Larasati

Dr. Arisya Larasati

"Risa" • Forensik

Menemukan autopsi yang dihapus: satu jenazah tanpa identitas, November 1953. "Temukan Andhika Maheswara."

Forensik
Rahasia
Foto tidak ditemukan

Karin

Penyelidik kasus 1953

Tiga hari setelah penyelidikan dimulai, ia menghilang tanpa jejak.

Hilang1953
Rahasia
Identitas terlindungi

Kapten Danang Suroso

Atasan Kirana

Membuka kembali berkas yang seharusnya tidak pernah disentuh.

Kepolisian
Dalang di Balik Kasus

PARA PENULIS

B

Bayang

nama pena
Nama
Azael Vaun kyoutakashi
Alamat
Jakarta Timur
Peran
Penulis — WEIST
@Firadlhpokoknya
F

Flowers

nama pena
Nama
Isabella
Alamat
Jakarta Selatan
Peran
Penulis — WEIST
@notryu2026
Informasi Kasus

BERKAS PEMBERKASAN

Case File
JudulWEIST — Di Kota Lama
Perkiraan Chapter129 chapter
GenreMisteri, Killer, Romance, Action, Psikologi
PlatformWattpad
Tanggal Rilis29 Agustus 2026
Cover & IlustrasiAntarez
PenulisBayang & Flowers
0Perkiraan Chapter
0Genre
0Penulis
0Tahun Misteri
Segera
29 AGUSTUS 2026

Kasus 872-11-1953 terbuka kembali. Ikuti penyelidikan Kirana dan bayangan Rubah Pradipta — hanya di Wattpad.

🅆 Ikuti di Wattpad